
Pandeglang, 19 Agustus 2026 – Dalam upaya mencetak generasi akademis yang tidak hanya unggul secara keilmuan tetapi juga memiliki kepekaan dan kesiapsiagaan terhadap kondisi lingkungan hidup, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Riyadhussholihiin Pandeglang berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam penyelenggaraan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Memasuki hari kelima pelaksanaan orientasi pada Rabu, 19 Agustus 2026, panitia PBAK mendedikasikan sesi utama untuk agenda “Pengenalan Penanggulangan Bencana” bagi seluruh mahasiswa baru.
Kegiatan edukasi publik ini diselenggarakan di aula utama kampus STIT Riyadhussholihiin. Berdasarkan dokumentasi kegiatan, perwakilan resmi dari BPBD hadir secara langsung untuk memberikan pemaparan materi yang komprehensif. Menggunakan alat bantu proyektor, narasumber menampilkan data faktual berupa pemetaan wilayah rawan bencana dan analisis risiko spasial. Para pemateri yang mengenakan atribut resmi institusi kebencanaan tersebut mengedukasi mahasiswa secara terperinci mengenai karakteristik potensi bencana di wilayah Banten, khususnya Kabupaten Pandeglang, beserta prosedur standar operasional (SOP) mitigasi dan evakuasi mandiri.
Dimasukkannya kurikulum kebencanaan ke dalam agenda wajib mahasiswa baru ini merupakan langkah strategis yang didasari oleh realitas geografis. Wilayah Pandeglang dikenal memiliki topografi dan letak geologis yang menjadikannya rawan terhadap berbagai potensi krisis alam, seperti pergerakan lempeng tektonik, potensi tsunami di kawasan pesisir, hingga cuaca ekstrem penyebab banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu, penyebaran informasi mitigasi yang berbasis data sains dan pengalaman lapangan instansi berwenang menjadi sebuah urgensi demi kepentingan keselamatan publik.
Langkah STIT Riyadhussholihiin Pandeglang menghadirkan BPBD bertujuan untuk mentransformasi mahasiswa dari sekadar kelompok terpelajar menjadi agen pengurangan risiko bencana (PRB) di tengah masyarakat. Mahasiswa diproyeksikan menjadi ujung tombak literasi mitigasi bagi keluarga dan komunitas di daerah asal mereka masing-masing. Pengetahuan mengenai jalur evakuasi, sistem peringatan dini, dan tindakan pertolongan pertama diharapkan dapat memperkuat ketahanan sosial (social resilience) warga Pandeglang saat menghadapi situasi darurat yang tidak terprediksi.
Selama forum berlangsung, ratusan mahasiswa baru tampak menyimak dengan saksama seluruh data kerawanan wilayah yang dipresentasikan. Ruang diskusi yang dibangun bersifat dua arah, menjembatani dialog krusial antara pemerintah daerah sebagai fasilitator keselamatan publik dengan civitas akademika sebagai pendorong kesadaran masyarakat. Hal ini mencerminkan keterbukaan informasi dan pendekatan yang berimbang dalam menyikapi isu-isu lingkungan tanpa memicu kepanikan massal, melainkan menumbuhkan sikap waspada yang rasional.
Agenda hari kelima PBAK ini sekaligus menjadi bukti nyata komitmen STIT Riyadhussholihiin Pandeglang dalam menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Institusi menegaskan bahwa pendidikan tinggi Islam tidak boleh tercerabut dari realitas sosial ekologisnya. Melalui pembekalan mitigasi yang terstruktur ini, kampus berharap dapat melahirkan generasi sarjana dan pendidik yang adaptif, tangguh secara mental, dan siap memikul tanggung jawab kemanusiaan demi melindungi jiwa masyarakat luas di masa yang akan datang.